Senin, 31 Desember 2012

Cerita Dewasa Hot SPG Cantik Dan Seksi Ku

Cerita Dewasa Hot SPG Cantik Dan Seksi Ku ~ Seperti biasanya Berita Gue akan berbagi kumpulan cerita hanya di blog http://muna-fik.blogspot.com/ Berita gue akan Berbagi Cerita Ngentot, Cerita ML, Sex Porno dan Cerita Bercinta. Kali ini Berita gue mengambil topik cerita berjudul "Cerita Dewasa Hot SPG Cantik Dan Seksi Ku"




Berikut Cerita yang Berjudul "Cerita Dewasa Hot SPG Cantik Dan Seksi Ku
 
 
Cerita Dewasa Hot SPG Cantik Dan Seksi Ku-Tika, gadis cantik yang dulunya berprofesi sebagai SPG yang juga memiliki toket gede – Tempat fitness saya cowok dan cewek dicampur, biasanya sih para cewek hanya ikut aerobik-nya saja. Jarang ada yang ikut angkat-angkat beban. Takut gede kali, ya! Padahal terus terang saya suka sama cewek yang berbody seperti XENA The Prince of Warrior (tau, khan ?). Nnaahh…kejadian ini berlangsung pada pertengahan 1998. Saat itu hari Selasa, seperti biasa sepulang dari kantor, saya pergi ke tempat fitness. Hari itu ada dua orang cewek baru (maklum…karena hampir setiap hari ke tempat fitness, jadi hafal mana member lama dan mana member baru), satu orang berbody agak gemuk, manis dan yang satunya lagi berbodi kecil dengan buah dada yang kecil, yah berukuran 32-an dan berwajah imut dengan rambut lurus sebahu.


Singkat cerita, saya berkenalan dengan keduanya. Si cewek yang berbody agak gemuk, bernama Dhea (nama sudah disamarkan!) menanyakan bagaimana mengecilkan dan mengencangkan badan, sedangkan cewek yang berbody kecil bernama Tika (nama sudah disamarkan!) ingin agar buah dadanya bisa besar dan kencang juga pantatnya agar naik dan padat. Yah…saya ajarin saja. Selesai fitness kami ngobrol ngalor ngidul. Mereka bekerja di suatu hotel, Dhea di bagian keuangan sedangkan Tika di bagian marketing. Ternyata Tika kost yang lokasinya berdekatan tempat kost saya. Seminggu kemudian, selesai fitness Tika mengajak main ke tempat kost-nya.


Suasana kamarnya kost-nya cukup apik, tempat tidur busa-nya hanya digelar di atas lantai yang dihampari permadani berwarna biru muda ditutupi dengan bed cover berwarna pink lembut. Di pojok ada lemari es kecil, terus ada televisi 17 inch dan VCD Player. Pokoknya apik penataannya, sehingga membuat betah. Tempat kost-nya campur cewek ama cowok. Dia bercerita kalo Dhea itu suka sama saya dannitip salam buat saya. Saya hanya tersenyum kecil, lalu saya bilang “Tolong sampaikan salam kembali sama Dhea, terima kasih telah menyukai saya. Tapi mohon ma’af, kalo Dhea bukan cewek tipe saya”. Terus si Tika nanya “Emangnya tipe cewek Mas, yang seperti apa sih?”. Saya jawab, “Saya suka cewek yang bertipe seperti si Xena”. Dia hanya menjawab, “Ooohhh…!!”. Saat itu setelah ngobrol ngalor ngidul, saya pamit untuk pulang. Tidak terjadi “hal-hal yang diharapkan”.


Pokoknya hampir setiap ketemu dengan Tika selalu menyampaikan salam dari Dhea. Sebulan kemudian, saat setelah selesai fitness hujan turun dengan deras. Sambil menunggu hujan agak reda saya dengan Tika ngobrol ngalor ngidul. Hari itu Dhea tidak fitness karena ada kerja lembur, maklum akhir bulan. Saat itu jam menunjukkan pukul 21:15 dan hujan mulai agak reda.

“Mas, pulang yok !”, sela Tika.


“Ayo!”, sahutku.


“Tapi anterin Tika, yah!”, rengek Tika. Saya cuma memberikan anggukan.


Sesampainya di tempat kost Tika. Sebelum masuk kamarnya, Tika menawarkan minuman, “Mau minum apa Mas, yang dingin atau yang hangat?”. Saya jawab, “Kalo ada kopi, boleh juga tuh !”. Lalu setelah menyajikan Kopi, Tika bilang, “Saya mau mandi dulu ya, Mas?”. “Silahkan!”, sahut saya.


Sambil menunggu Tika mandi saya keluarkan rokok, terus saya nyalakan. Nikmat sekali, apalagi ditemani dengan secangkir kopi panas. Tika masuk kembali dengan rambut yang masih basah dengan memakai celana pendek yang agak longgar dan t-shirt ngatung warna putih. Kelihatan sekali paha putihnya dan juga buah dada yang walaupun kecil tapi kelihatan menantang, karena ternyata si Tika tidak memakai BH.


“Wah…enak lho, Mas! Abis mandi segerr…”, kata Tika. Terus Tika menawarkan, “Mas mau mandi, nggak?”.


Karena memang penat setelah berbody building, aku jawab “Mau…dong…!”. Selesai mandi, saya hanya mengenakan celana pendek dengan handuk dikalungkan di leher. Pas saya masuk ke kamar, Tika agak gugup. “Kenapa sih?”, kataku.


“Ah…enggak…”, sahut Tika. Dan saya lihat ternyata Tika sedang menonton VCD, entah film apa yang ditonton. Terus saya tanyakan, “Film apaan sih?”. Setelah saya lihat ternyata film Kamasutra. Terus saya bilang,”Kenapa dimatikan?”. Sambil tersipu (menjadikan tambah imut) Tika mengguman,”Abiss…malu sih?”.


Akhirnya, saya nyalakan kembali VCD tersebut.


“Kamu suka juga yah nonton VCD BF?”, kataku.

“Emmhh…baru pertama, koq!”, guman Tika.


Selanjutnya kami asyik menyimak film tersebut, kami duduk agak berjauhan. Tika menyender di tembok, sedangkan saya ber-sila.Saya lihat Tika tidak enak duduk, sebentar-sebentar dia ganti posi duduk, asalnya selonjoran, terus sila, terus nkedua kakinya diangkat dengan dagu ditempelkan. Tiba-tiba Tika mengguman lirih,”Masss…sini dong? Tika kedinginan, nih!”. Saya tidak menyangka akan hal ini, walaupun memang ini yang diharapkan. He…he…he… Saya terus mendekat kepadanya, sehingga kami bersandar di tembok. Tika langsung merebahkan kepalanya ke dada saya. Saya jadi kaget untuk yang kedua kalinya. Untung tidak jantungan.


Untuk yang ketiga kalinya saya dibikin kaget oleh Tika,”Mas…ganti dong Film-nya, terlalu banyak ngobrolnya. Tolong ambilin di lemari kecil itu”, sambil menunjuk ke arah lemari yang dimaksud. Terus saya beranjak ke arah lemari tersebut, dan saya jadi kaget lagi untuk yang kesekian kalinya. Ternyata dalam lemari tersebut ada sekitar 10 buah VCD BF. Saya ambil semua, saya serahkan sama Tika. Terus Tika mengambil satu yang berjudul The Phoneix. Saat itu jam 23:15.


Setengah jam setelah nonton, saya lihat Tika makin gelisah. Sambil tetap saya peluk, saya lihat tangannya mengusap-ngusap pahanya, naik sampe ke arah memeknya. Demikian terus menerus. Melihat kegiatan yang Tika lakukan, maka saya pun jadi konak.


Tangan saya yang sedang meluk Tika, bergeser turun ke arah buah dadanya, agak ragu juga sih. Tapi begitu tangan saya sampe di buah dadanya, si Tika malah makin membusungkan dadanya. Tangan saya masuk dari bawah kaosnya merayap ke arah buah dada sebelah kiri. Saya remas pelan, terus saya raba putingnya yang sudah mengeras, saya pelintir-pelintir pelan. Tika menaikkan pinggulnya, sambil mendesah,”Ooohhh …. Mmhhaasss ….”. Saya yang mendengar desahan tersebut makin konak saja. Posisi saya dengan kaki berselonjor dan Tika duduk di depan saya diantara ke dua paha saya.


Menjadikan saya lebih leluasa untuk meremas buah dadanya. Tangan kiri saya masih terus meremas buah dada yang kiri, sedangkan tangan kanan saya mencoba membuka t-shirtnya. Ternyata Tika mengerti apa yang saya kehendaki. Sekarang bagian atas Tika sudah toples, saya lihat buah dadanya yang kecil tapi indah dengan puting berwarna agak kecoklatan dan sudah mengeras, ditambah dengan kulitnya yang kuning langsat. Melihat pemandangan seperti itu dari arah belakang atas punggungya menjadikan saya makin bertambah nafsu untuk menjadikan Tika lenih terangsang. Cerita film sudah tidak disimak lagi, malahan kami yang sekarang sedang beradegan. He…he…he… Setelah yang kiri, tangan saya beralih ke arah buah dada yang kanan. Tangan kanan saya merayap mengusap pahanya, terus beralih ke arah memeknya yang masih ditutupi celana pendeknya. Saat tangan kanan saya meraba memeknya, sambil bersandar ke dada saya, pinggul Tika dinaikkan, sambil mendesah, “Ahhh … ahhhhh ……. Oohhh …”.


Terus tangan kanan saya naik ke arah perutnya, pas di pusarnya saya elus-elus, terus menyelinap ke dalam celana pendeknya, saya raba lagi memeknya yang masih dibungkus dengan CD satinnya. Tangan saya gosokan naik turun di antara celah memeknya. Tika makin melentingkan pinggulnya. Karena ditempat kost, Tika hanya mendesah “Ahhhh … ooohhhh …. aaahhhh …”. Tangan kanan saya lalu menyusup ke arah memeknya melalui celah-celah CD-nya dekat pangkal paha, dan memang sudah basah. Terus saya cari Clit-nya, yang sudah menonjol keluar, sehingga memudahkan untuk menggosoknya. Saya usap pelan-pelan, makin lama saya gosok makin cepat. Pinggul Tika makin melengking dengan raut wajah yang sudah sangat terangsang. Tika hanya bisa mengeluarkan desah, “Aaauuuhhhh ….. ooohhhhh …..”. Makin lama jari tangan kanan saya pasif, yang aktif makin keras adalah goyangan pinggul Tika, naik turun makin cepat.


Dan akhirnya Tika sampai pada klimaksnya kedua tangannya memeluk bahkan hampir mencekik leher saya, sambil berteriak lirih, “AAAAUUUHHHHH ….. MMMHHHAAASSSSS ……OOOOOHHHH…”. Tubuhnya lemas bersandar di dada saya. Sambil kepalanya tengadah, saya kecup bibirnya. “Terima kasih, Mas…”, ujarnya lirih.


Saat itu sudah jam 24:30. Saya pamit untuk pulang. Sejak saat itu kami selalu melakukan hal yang sama, tetapi tidak sampai Coitus. Karena saya pernah mencoba melakukan Coitus, tetapi Tika tidak mau. Dan kebetulan Tika suka mengulum batang kemaluan saya. Maka dalam melakukan percumbuan, timbal baliknya adalah setelah Tika orgasme, gantian Tika yang mengulum batang kemaluan saya.


Dalam melakukan percumbuan, tidak mesti saya melakukan Coitus. Saya merasa puas dan senang bila cewek tersebut terpuaskan oleh saya. Saya sangat menyukai bila melihat wajah cewek yang lagi konak dan orgasme, juga mendengar desahan cewek yang sedang konak dan pada saat mencapai klimaks. Biasanya kalau saya melalukan Coitus, melihat-lihat dulu siapa ceweknya. Kalo ternyata ceweknya sudah terbiasamelakukan Coitus, ya…saya akan melakukan Coitus.

Cerita Ngentot Memek Rapat Si Gadis Panggilan (Lonte)

Cerita Ngentot Memek Rapat Si Gadis Panggilan (Lonte) ~ Seperti biasanya Berita Gue akan berbagi kumpulan cerita hanya di blog http://muna-fik.blogspot.com/ Berita gue akan Berbagi Cerita Ngentot, Cerita ML, Sex Porno dan Cerita Bercinta. Kali ini Berita gue mengambil topik cerita berjudul "Cerita Ngentot Memek Rapat Si Gadis Panggilan (Lonte)"






Berikut Cerita yang Berjudul "Cerita Ngentot Memek Rapat Si Gadis Panggilan (Lonte)"

Cerita Ngentot Memek Rapat Si Gadis Panggilan (Lonte)-Kehidupan di dunia memang berjalan seperti nasehat Sang Budha di atas. Setidaknya itulah romantika kehidupan yang dialami kedua tokoh dalam cerita kita kali ini. Tokoh yang pertama adalah Faried, seorang sopir taksi berusia 31 tahun yang melewatkan hari demi hari kehidupannya dengan beragam nuansa: terkadang sangat melodramatis, romantis, sentimentil, bahkan lucu.


Selama bekerja sebagai sopir taksi di ibukota selama beberapa tahun Faried telah banyak menemui kejadian yang menegaskan fenomena itu. Suatu ketika, ia mengembalikan dompet seorang ibu yang ketinggalan di taksinya.Sesungguhnya, ia tidak mengharapkan keuntungan apa-apa dari situ, sebab baginya kejujuran dan kepolosan sudah menjadi bagian integral dari jiwa, tubuh dan segenap aktifitas kesehariannya. Kalau pun kemudian, si ibu dengan ekspresi wajah lega dan ucapan terima kasih tak terhingga, lalu memberikan uang sebagai penghargaan atas 'jasa' nya, dan kemudian dengan halus si sopir itu menolaknya, itu semata-mata karena apa yang telah ia lakukan sudah menjadi tugasnya. Komitmen Faried untuk menjunjung tinggi 'harkat ke-supir taksi-an' saya, tak lebih. Pada kesempatan lain, ia menolong seorang korban kecelakaan lalu lintas di depan kampus sebuah perguruan tinggi. Ia segera membawanya ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat, dengan tidak memperhitungkan lagi berapa tarif taksi yang dapat diperolehnya bila ia tetap mengabaikan kejadian itu. Semua terasa seperti tindakan 'bawah sadar' yang telah terbentuk sedemikian rupa selama bertahun-tahun, sejak ayahnya yang telah almarhum menanamkan nilai-nilai kearifan tradisional dalam diri Faried.


Hari itu Faried kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Untuk yang satu ini memang bukan rutinitas yang lazim, karena setiap petang tiba, ia menjemput Ayu (25 tahun), tokoh sentral berikutnya, yang adalah seorang wanita panggilan 'kelas atas’ yang tinggal di sebuah rumah mewah di sebuah kompleks pemukiman real estate, untuk kemudian membawanya ke suatu tempat, di mana saja, yang telah disepakati sebelumnya oleh pelanggan setianya itu. Ayu sudah menyewa taksi Faried selama enam bulan. Jadi pada jam-jam tertentu–biasanya petang hari–Faried menjemputnya di rumah tersebut, membawanya ke tempat yang senantiasa berbeda-beda tergantung mana yang ditunjuk wanita itu, lantas mengantarnya kembali pulang setelah 'bisnis'-nya usai pada jam-jam tertentu pula. Ayu membayar cukup mahal untuk tugas tersebut dan Faried menerima itu sebagai bagian tak terpisahkan dari harkat 'ke-supir taksi-an' nya. Ia tidak menganggap itu sebagai kerja yang hina lantaran menerima bayaran dari hasil desah dan keringat maksiat Ayu. Ini bagian dari tugas, demikian ia mencari alasan pembenarannya. Faried selalu menganggap persetan dengan semua anggapan sinis tentang dirinya. Baginya, ia tetap memiliki hak untuk menentukan sikap dan melakukan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Prinsip sederhana memang tapi logis. Sudah empat bulan lamanya Faried melakukan 'tugas rutin' itu. Ia sudah berusaha menghilangkan beban psikologis apa pun termasuk perasaan cinta. Terus terang sebagai seorang pria, Faried memang tidak dapat mengingkari kata hati bahwa Ayu memang cantik dan diam-diam ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan rambut sebahu, wajah oval proporsional, hidung bangir, kulit putih dan postur tubuh ramping semampai, Ayu tampil mempesona mata setiap pria yang melihatnya, termasuk dirinya. Sebagai lelaki bujangan dan normal, Faried tidak dapat menepis getar-getar aneh saat wangi parfum Ayu yang khas menyerbu hidung ketika ia masuk ke taksinya. Tapi ia berusaha menekan perasaan itu sekuat-kuatnya.


Terlebih, ketika muncul rasa cemburu, saat Ayu terlihat digandeng oom-oom kaya yang lebih pantas menjadi ayahnya. Faried seyogyanya harus menempatkan diri pada posisi yang benar: ia adalah pelanggan dan saya hanya supir taksi. Maka ia mematuhi 'rambu-rambu' itu secara konsisten. Terlebih secara fisik dan finansial ia kalah jauh dibanding Ayu, mana mungkin wanita gedongan dan sudah terbiasa menikmati kemewahan seperti Ayu mau dengan sopir taksi miskin dengan tampang ndeso seperti dirinya, bukankah itu bagaikan pungguk merindukan bulan? Faried cukup tahu diri mengenai hal ini. Percakapan mereka pun, baik ketika pergi maupun pulang, biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa, bahkan nyaris bersifat rutin. Faried berusaha menjaga jarak dengan Ayu agar tidak terlibat lebih jauh ke masalah yang sifatnya terlalu pribadi. Namun belakangan ini sudah ada sedikit 'peningkatan kualitas pembicaraan'. Tidak hanya sekedar, 'Mau ke mana?' atau 'Jam berapa mau dijemput?', dan sebagainya. Ayu mulai menanyakan latar belakang pribadi sang sopir langganannya itu hingga menanyakan ada berapa jumlah penumpang di taksinya untuk hari ini. Tentu Faried pun ada rasa gembira pada perkembangan menarik ini. Mulanya sang sopir agak rikuh tapi perlahan ia mulai dapat menyesuaikan diri dan menjadi pembicara atau pun pendengar yang baik.


Ayu


Seiring berjalannya waktu, hubungan emosional mereka pun berlangsung hangat. Ayu mulai tak canggung-canggung mengungkap riwayat hidupnya pada si sopir. Ia ternyata produk keluarga broken home. Ayah dan ibunya bercerai ,ibunya kabur bersama pria lain sehingga ia ikut ayahnya yang pemabuk dan tukang main pukul. Ia tidak tahan dan prihatin dengan kondisi seperti itu sehingga memutuskan untuk minggat dari rumahnya dan mengadu nasib ke ibukota. Kuliahnya pun tidak selesai. Awalnya ia tinggal di rumah seorang famili jauhnya dan mulai mencari pekerjaan agar dapat mandiri.


“Saya harus terus hidup dan berjuang”, kata Ayu menetapkan hati.


Bermodalkan kecantikan dan keindahan tubuhnya, ia menjadi SPG lalu tak lama mulai memasuki dunia model. Foto-foto dirinya pernah menghiasi majalah fashion, lifestyle hingga majalah pria dewasa. Selain itu ia juga mendapat peran kecil dalam beberapa sinetron lokal. Namun, tanpa disadarinya, perlahan namun pasti ia terjerumus ke lembah nista. Kehidupan malam dan hingar bingar pesta, sepertinya memberikan keleluasaan baru dan ia bagai memperoleh jati diri di sana. Sejak itu Ayu pun dikenal sebagai model plus-plus, ia menjadi primadona di kalangan atas. Hampir semua klien-nya siap melakukan apa pun untuk berkencan dengannya. Belakangan, ia kemudian menjadi ‘simpanan' seorang direktur sebuah bank swasta ternama di negeri ini, dengan tip dan bayaran yang sangat besar plus rumah mewah komplit segala isinya. Sang Direktur hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja untuk menemui Ayu. Meskipun begitu, profesinya tak juga ditinggalkan, selain menjadi model ia menjadi wanita panggilan kelas atas.


"Saya menyukai pekerjaan ini," katanya suatu ketika, suaranya terdengar serak dan terkesan dipaksakan.


Faried melirik melalui kaca spion, wanita cantik itu duduk santai di belakang, menyelonjorkan kaki dan menyalakan rokok. Faried tersenyum dan kembali mengalihkan pandangan ke depan. Ayu tak menjelaskan lebih jauh pernyataan yang telah dikeluarkan. Hanya kepalanya terangguk-angguk pelan menikmati lagu melankolis 'When A Man Loves A Woman'-nya Michael Bolton yang mengalun dari radio di tape mobil Faried.


"Omong-omong...Abang sudah punya pacar atau udah berkeluarga?" tanyanya tiba-tiba.


Kontan Faried gelagapan dan agak kehilangan konsentrasi mengemudi.


"Saya sih udah cerai Mbak" ia menjawab tersipu, “ya waktu masih di kampung dulu sampai sekarang yah ginilah, masih sendiri”


Sebuah jawaban yang jujur terlontar dari mulut si sopir itu. Ayu terkekeh. Ia menghirup rokoknya dalam-dalam. Rimbun asapnya mengepul-ngepul, memenuhi kabin taksi. Faried menelan ludah.


"Kalau Mbak Ayu sendiri bagaimana?" ia balik bertanya.


"Abang tahu sendiri, kan? Banyak. Banyak sekali," sahut Ayu, suaranya terdengar hambar, kedengarannya ia seperti melontarkan sebuah lelucon atau apologi? entahlah


"Banyak memang. Tapi hampa," Faried menanggapi dengan getir.


Untuk beberapa saat Ayu terdiam. Ia mematikan rokoknya, lalu merenung...lama. Hanya deru mesin mobil dan getar alat air conditioner taksi terdengar. Lalu lintas di larut malam itu memang telah sepi. Sebagian lampu jalan telah dipadamkan. Faried tiba-tiba menyadari kecerobohan dan kelancanganya, maklum sebagai orang kampung ia terbiasa bicara ceplas-ceplos apa adanya.


"Eh...maaf ya Mba,apa saya...."


"Nggak apa-apa Bang. Itu emang benar, mereka hampa, cuma punya tubuh dan nafsu, bukan jiwa dan cinta," Ayu bertutur dengan lirih.


Faried menghela nafas panjang, ia merasa dadanya sesak, simpati pada nasib wanita secantik Ayu harus bernasib demikian.


"Hidup menawarkan banyak pilihan, Mbak."


"Tapi saya tak punya pilihan!" sangkal Ayu dengan nada suaranya meninggi.


"Kearifan menyikapi dengan landasan moral, itu kunci untuk memilih. Kita memang tak akan pernah tahu apakah pilihan hidup kita sudah tepat. Tapi setidaknya, kita mesti punya pegangan yang kokoh untuk menentukan ke mana kita mesti melangkah," Faried berkata lembut berusaha menghiburnya.


Terdengar nafas berat Ayu di belakang. Suasana terkesan kering dan kaku.Keduanya tak bercakap-cakap lagi hingga taksi Faried tiba di gerbang depan rumah yang dituju.


Ayu hanya mengucapkan 'Selamat malam. Sampai jumpa besok sore'.


Faried pun pulang ke rumah kontrakannya dengan rasa bersalah yang bertumpuk, sepertinya ia telah menyinggung wanita itu dengan omongannya. Ketika selesai tugas malam itu, ia menemukan sebuah lipstick di lantai belakang taksinya.


Keesokan harinya


Hari itu adalah hari terakhir kontrak sewa Faried dengan Ayu. Ia menjalani rutinitas ekstranya seperti biasa, ia menjemput Ayu pada waktu dan tempat yang sama.


“Maaf, apa ini punya Mbak? Kemarin saya nemuin di belakang” kata Faried sambil menunjukkan lipstick yang dipungutnya kemarin


“Ohh...iya benar, makasih ya Bang, sepertinya jatuh waktu saya ngambil rokok kemarin” Ayu tersenyum berterima kasih seraya mengambil lipstick itu.


Kekakuan komunikasi akibat 'insiden' semalam berangsur-angsur lenyap. Faried pun berusaha untuk lebih hati-hati berkata-kata agar menjaga perasaan Ayu.


"Apa Mbak tidak bosan dengan rutinitas seperti ini?" ia membuka percakapan,


"Apa Abang punya ide yang baik?" wanita cantik itu balas bertanya.


"Yah... misalnya rutinitas yang baru. Kawin dengan lelaki yang mampu memberi nafkah cukup lahir batin–tidak sekedar limpahan materi yang semu belaka, hidup bahagia, punya anak dan menikmati kehidupan," Faried mengucapkan kalimat tersebut sesantai mungkin tanpa beban, ia ingin mendengar pendapat Ayu mengenai hal ini.


Sejenak Ayu terdiam. Faried kembali melirik ke belakang lewat kaca spion mobil. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan make up tipisnya, parasnya yang memukau seperti bercahaya, dibanding para pelacur warung remang-remang atau pinggir jalan tentu ibarat bumi dan langit. Ia melepas pandang ke luar melalui kaca jendela taksi yang buram, sepertinya memikirkan sesuatu.


"Itu angan-angan yang terlalu ideal, Bang," jawabnya pada akhirnya.


"Jangan melihat ini sebagai sesuatu yang naif, Mbak. Saya rasa pendapat saya cukup realistis. Gak mengada-ada. Setiap orang, baik lelaki maupun wanita, pasti pernah berpikir mengenai hal itu: Kebahagiaan hidup berkeluarga. Semuanya akan kembali pada prinsip dan keinginan orang yang bersangkutan, sepanjang ia sadar dan yakin hal itu bakal memberikan ketenteraman bagi jiwanya, hatinya dan segenap aktifitas kesehariannya," Faried mencoba berargumen.


"Kita punya takaran penilaian yang berbeda Bang. Tak akan bisa bertemu. Jangan terlalu banyak bermimpi. Kita hidup berada dalam kemungkinan-kemungkinan. Apa yang bakal terjadi kemudian, kita gak bisa menebak. Dan itu sering tidak persis sama seperti yang kita bayangkan," ujar Ayu lirih dengan bibir bergetar.


Faried menarik nafas, putus asa.


"Apakah Mbak menganggap bahwa lakon hidup yang Mbak lakukan selama ini sama persis seperti yang Mbak bayangkan sebelumnya?"


"Memang gak sama Bang. Bahkan sangat jauh berbeda. Saya gak pernah mengimpikan menjalani kehidupan seperti ini. Tapi, bukankah ini bagian dari kemungkinan-kemungkinan hidup? Gak berarti saya mengatakan bahwa saya menolak kehidupan berkeluarga. Saya bukan orang yang munafik lah, terus terang dalam hati saya tetap mendambakan seorang suami yang dapat menyayangi dan memanjakan saya serta anak sebagai tambatan hati. Namun, kalau saya telah menemukan ketenangan pada profesi yang saya lakoni saat ini, bagi saya bukanlah suatu pilihan yang keliru. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk memaknai hidupnya."


"Apa Mbak merasa bahagia dengan memaknai hidup dengan jalan ini?"


"Saya gak bisa menjawabnya Bang. Abang gak akan pernah tahu ukuran dan nilai kebahagiaan bagi saya seperti apa. Begitu pula sebaliknya. Kita punya 'nilai rasa' yang berbeda dalam menakar kebahagiaan," Ayu bertutur pelan dengan tidak mengalihkan pandangan ke arah luar taksi.


Faried terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sadar, wanita itu cukup konsisten memegang prinsipnya. Mendadak, kesedihan merambah dalam hati sopir taksi itu. Hari ini adalah hari terakhirnya bersama Ayu. Besok, Ayu akan berangkat berlibur ke Singapura dan Australia mendampingi sang direktur selama sebulan. Ia tidak tahu apakah Ayu akan menyewa 'jasa' nya lagi kelak atau mungkinkah mereka bisa bertemu lagi kelak. Baginya itu tidak penting. Kebersamaan dengan wanita penghibur kelas atas itu selama ini, tanpa sadar membangkitkan rasa cinta dan keinginan melindungi dalam hatinya. Wanita itu bukan hanya sekedar langganan, namun telah menjadi teman baginya. Melalui kaca spion mobil, ia melirik Ayu. Ia begitu cantik, sangat cantik, mengapa bunga yang begitu indah harus terhanyut dalam kubangan kotor? Faried membatin sekaligus nelangsa. Tak lama kemudian, mereka telah sampai ke tujuan. Faried segera mematikan mesin mobil dan pikirannya galau sepanjang menanti panggilan dari Ayu untuk mengantarnya pulang, tak terasa lima puntung rokok telah habis sampai kotak rokoknya kosong. Hujan deras mengguyur ibukota di tengah perjalanan pulang mengantarkan wanita itu. Setibanya di rumah Ayu, Faried turun dan mengeluarkan payung sebelum membuka pintu belakang dan memayungi wanita itu hingga ke gerbang.


“Bang, masuk dulu aja, minum dulu sambil tunggu hujan reda!” tawar Ayu setelah membuka gembok.


“Tapi Mbak...”


“Sudahlah Bang, masuk saja, hujannya terlalu deras, mana ada yang numpang saat-saat gini?” Ayu malah menarik lengan Faried memasuki pekarangan rumahnya.


Faried tidak bisa menolak lagi ajakan wanita itu, malah hati kecilnya merasa girang. Mereka berlari kecil ke pintu. Ayu membuka pintu dan mempersilakan sopir taksi itu masuk. Faried langsung merasakan kehangatan begitu memasuki rumah itu. Ayu memang pandai menata interior ruangan sehingga kelihatan menarik dan nyaman. Dekorasi ruangan tamunya bertema oriental, beberapa buah patung menghiasi berbagai sudut. Faried terbengong-bengong memandangi sekitar ruangan itu, entah perlu gaji berapa puluh tahun baru bisa membeli rumah seperti ini.


"Duduk Bang!” Ayu mempersilakannya duduk di sofa “mau minum apa nih? Teh? Kopi? Juice?" tawarnya sambil ke mini bar dekat situ.


"Kopi panas aja Mbak, makasih ya!" jawab Faried sambil menjatuhkan diri di sofa.


Ada beberapa majalah dan surat kabar di bawah meja ruang tamu. Faried pun membuka-buka sebuah majalah sambil menunggu Ayu membuatkan minum. Di sebuah sudut ruangan nampak sebuah koper besar dan sebuah yang kecil, Ayu memang telah selesai mengepak barang-barang yang akan dibawa sehingga besok tinggal diangkut ke mobil.


"Silakan Bang, diminum dulu kopinya" tiba-tiba Ayu sudah berada di depannya dan meletakkan segelas kopi yang masih mengepul atas meja di depanku.


Badannya agak membungkuk, sehingga sopir taksi itu bisa melihat sekelebatan tonjolan dua bukit dadanya yang kencang dan dibalut bra hitam lewat gaun terusannya yang longgar. Sejenak dadanya berdesir dan ia merasa celananya tiba-tiba menjadi sempit.


"Makasih ya Mbak!"


Ayu kemudian duduk di sebelahnya cukup dekat untuk ukuran seorang sopir taksi dan penumpangnya. Keduanya mulai mengobrol dan bercerita tentang apa saja, juga saling bertukar lelucon dan mereka tertawa lepas.


“Ini hari terakhir kita bertemu Bang! Besok saya pergi...makasih ya bantuannya selama ini” kata Ayu berkata sambil menghela nafas.


Hingga suatu saat, Faried memberanikan diri dengan dada berdebar keras memegang jemari tangan wanita itu, ia ingin memberinya penghiburan sebelum pergi jauh dalam waktu relatif lama. Ayu agak tertegun, tapi tidak menolak.


"Mbak...jaga diri di sana ya" kata Faried singkat.


Ayu tersenyum, "Ya...makasih, Abang juga, semoga dapat jodoh yang baik” balasnya.


Tiba-tiba Ayu melepaskan tangan sopir taksi itu lalu berdiri kemudian menuju kamarnya.


"Tunggu bentar ya Bang!" katanya sambil tersenyum penuh arti, ia lalu mengambil remote TV di meja ruang tamu dan menyalakan TV di depan mereka, “nonton aja dulu ya sambil nunggu!” lalu ia masuk ke kamarnya.


Di ruang tamu, Faried mendengar sayup-sayup suara air yang mengucur deras dari dalam kamar itu. Rupanya di dalam ada kamar mandi dalam. Tak lama kemudian, Ayu keluar dari kamarnya, kini ia sudah memakai kimono sutra berwarna biru. Sungguh cantik dan menggairahkan ia dalam balutan pakaian tersebut, belahan pahanya memperlihatkan pahanya yang indah.


"Ayo sini Bang!" ajak Ayu sambil menggandeng tangan Faried.


“Tapi Mbak...mau apa?” Faried gugup dengan ajakan wanita tersebut.


Ia menurut saja walau merasa canggung karena baru pernah seorang wanita mengajaknya masuk ke kamarnya seperti ini.


"Eeennggg....kamarnya bagus ya Mbak!" pujinya sambil menutup kegugupan, “kita mau apa Mbak?”


Ayu hanya menjawab terima kasih, dia terus menuntun Faried hingga memasuki kamar mandinya. Di dalam kamar mandi, ia melihat air kran masih mengucur deras hampir memenuhi separuh dari bathtub. Wangi harum dari bubble bath segera memenuhi paru-paru pria itu.


“Bang...makasih ya atas bantuannya selama ini” kata Ayu lalu tiba-tiba merangkul sambil mendorong Faried ke belakang sehingga tubuh pria itu terhimpit ke tembok, tangannya lalu meraba sekujur tubuh sopir itu, “abang orang baik, tulus, jarang saya temui orang seperti abang jaman sekarang ini, apalagi di dunia saya”


“Eeee...apaan nih Mbak?” Faried mencoba menghindar antara mau dan tidak.


“Anggap ini hadiah perpisahan dari saya Bang...sekaligus terima kasih untuk mengembalikan lipstik saya itu” habis berkata Ayu lalu mencium Faried dengan bernafsu sekali sambil tangannya meremas-remas selangkangan pria itu.


Iman Faried pun dengan cepat runtuh. Ia pun membalasa mencium dan memagut bibir indah Ayu sambil tangannya meremas lembut pantatnya. Ayu mulai melepaskan satu persatu kancing seragam sopir Faried. Belaian tangan lembut wanita itu pada dadanya sungguh membangkitkan gairah si sopir taksi, kelelakiannya terasa makin keras sehingga celana panjangnya terasa semakin sesak. Tangannya agak gemetar dan mulai berani meraba dan meremas lembut bukit dada Ayu. Wanita itu melenguh dan semakin ganas dengan permainan "french kiss" nya. Sebentar saja seragam sopir itu sudah lepas dan jatuh ke lantai. Ayu melanjutkan dengan membuka celana panjang pria itu. Faried pun mulai melepaskan tali pinggang yang membalut kimono Ayu. Payudaranya yang sudah membusung dengan putingnya yang tegak telah membayang di balik kimononya, terlihat jelas ia sudah tidak memakai bra lagi.


Ayu meraba dan meremas lembut batang kemaluan Faried yang masih dibalut celana dalamnya. Dia memainkan jemarinya dan mulai merogoh masuk celana dalam itu, menjemput batang kelelakian si sopir taksi. Dengan sekali tarik, terbukalah kimono Ayu, wanita itu lalu meloloskan tangannya sehingga kimono itu segera jatuh ke lantai. Betapa indah tubuh di baliknya yang sudah tidak memakai apa-apa lagi, kulitnya putih mulus dan begitu terawat. Kemaluannya ditumbuhi bulu-bulu yang halus dan dicukur rapi, tidak terlalu lebat, tapi juga tidak terlalu tipis. Celah kewanitaannya membayang di balik bulu-bulu tersebut. Telanjang sudah wanita cantik itu di depan Faried yang selama ini mengisi fantasinya. Bukit dadanya yang ranum dengan putingnya yang berwarna kemerahan telah menegang seolah menantang untuk mengulumnya. Perlahan, Faried mulai menyusuri bukit dadanya yang sebelah kiri dengan lidahnya. Ia memainkan lidahnya hingga ke putingnya. Ayu pun mendesis saat lidah pria itu menyentil dan mengitari putingnya, sementara tangan kiri pria itu meremas lembut dan memainkan bukit dada dan putingnya yang kanan. Ayu mendesah nikmat. Tangannya merenggut celana dalam Faried dan menurunkannya dengan cepat hingga terlepas ke lantai. Dengan ganas ia memainkan dan mengocok batang kelelakian yang telah ereksi maksimal itu.


“Yuk...kita sambil berendam aja!” Ayu "menuntun" penis Faried menuju bathtub.


Faried hanya bisa pasrah tidak bisa berkata-kata menikmati pelayanan Ayu. Ia merebahkan diri ke dalam bathtub dan Ayu dengan perlahan mengocok dan mengurut penisnya di antara busa-busa sabun dan air hangat. Wanita duduk di antara dua kakinya sambil masih terus mengurut dan mengocok penisku. Faried memejamkan mata menikmati setiap sensasi yang menjalari sekujur tubuhnya. Rasa geli yang nikmat ia rasakan setiap gerakan lembut tangan Ayu beraksi naik turun.


“Eeemmmhhh...enak Mbak...!” erang Faried.


Entah berapa lama ia menikmati permainan tangan Ayu. Lalu ia menarik bahu wanita itu dan membalikkan badannya ke arah badannya. Dipeluknya Ayu dari belakang. Kini gilirannya untuk memberikan kenikmatan buat wanita itu. Tangannya memainkan payudaranya dengan jalan meremas, meraba dan memilin-milin lembut dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya juga tidak tinggal diam, memainkan paha, lipat paha dan daerah gerbang kewanitaan Ayu. Ayu mengerang, mendesis dan melenguh. Hidung dan lidah Faried menciumi dan menjilati daerah di belakang daun telinga Ayu dan sekitar tengkuknya. Jari-jari kasarnya memilin dan memencet-mencet lembut klitoris dan labia mayora wanita itu.


"Oohhhhhh....Bang, enak Bang...terushhh...saya milikmu malam ini!" desah Ayu


Faried sedang menciumi leher Ayu, tangannya meremas lembut payudara montok itu. Ayu yang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini, tak mau kalah. Ia mengocok pelan penis Faried. Sopir bertampang ndeso itu pun semakin buas karena terangsang, ia memutar wajah wanita itu ke belakang lantas bibir mereka bertemu, saling pagut, saling gigit, lidah keduanya berbelitan dan air ludah mereka bercampur


Akhirnya setelah seperempat jam, mereka pun menyudahi pemanasan yang penuh gairah itu karena kulit mereka mulai keriput disebabkan oleh terlalu lamanya kami berendam dalam air bubble bath. Ayu menciumi wajah ndeso itu dengan penuh kelembutan dan akhirnya keduanya melakukan "french kiss" lagi dengan posisi saling mendekap. Setelah puas melakukan "french kiss", Ayu berdiri dan memutar kran shower untuk membilas tubuh mereka. Di bawah derai siraman air shower, keduanya kembali berpelukan dan melakukan "french kiss" lagi. Saling meraba, saling mengelus dan menyusuri tubuh pasangan masing-masing.


Rupanya Ayu sudah birahi tinggi. Ia menaikkan satu kakinya ke pinggir bathtub dan menuntun penis Faried ke arah gerbang kewanitaannya.


“Saya udah kepengen banget Bang, ayo setubuhi saya...buat saya menggelepar keenakan!” pintanya.


Faried membantunya sambil tangan kirinya memilin-milin puting payudara kanannya. Ia menggeser-geserkan ujung kepala kemaluannya pada klitorisnya. Perlahan, ia mendorong masuk penisnya ke dalam liang kemaluan Ayu. Pelan.. lembut.. perlahan.. sambil terus mengulum bibir merahnya. Ayu mendekap si sopir taksi sambil mendesis di sela-sela ciuman mereka. Akhirnya amblaslah kira-kira tiga per empat dari panjang kemaluan Faried, dan mulai maju-mundur menggenjot vagina wanita itu. Ayu memejamkan matanya sambil terus mendesis dan melenguh. Ia memeluk pria itu semakin kencang. Faried mengayunkan pantatnya semakin cepat dengan tusukan-tusukan dalam yang ia kombinasikan dengan tusukan-tusukan dangkal. Ayu membantu dengan putaran pinggulnya, membuat batang kemaluan Faried seperti disedot dan diputar oleh liang kemaluannya. Guyuran air shower menambah erotis suasana dan nikmatnya sensasi yang mereka alami.
Faried merasakan lubang kemaluan Ayu semakin licin dan semakin mudah baginya untuk melakukan tusukan-tusukan kenikmatan yang mereka rasakan bersama. Setelah agak lama melakukan posisi ini, Ayu menarik pantatnya sehingga batang kemaluan pria itu terlepas dari lubang kemaluannya. Kemudian ia membalikkan badannya dan agak membungkuk, menahan tubuhnya dengan berpegangan pada dinding kamar mandi. Rupanya dia ingin merasakan posisi "rear entry" atau yang lebih populer dengan istilah "doggy style". Kemaluannya yang berwarna merah jambu sudah membuka, menantang, dan terlihat licin basah. Perlahan Faried memasukkan batang kemaluannya yang tegang kaku dan keras ke dalam lubang kemaluan Ayu.


“Aaaahh....yahhh!” desis Ayu dengan tubuh mengejang.


Faried mulai mengayunkan pantatnya maju-mundur, menusuk-nusuk lubang kemaluan Ayu. Ayu merapatkan kedua kakinya sehingga batang kemaluan pria itu semakin terjepit di dalam liang kemaluannya. Faried merasakan kenikmatan yang luar biasa dan sensasi yang sukar dilukiskan dengan kata-kata setiap kali ia menghujamkan kemaluannya. Tangannya meremas-remas pantat Ayu bergantian dengan remasan-remasan pada payudaranya. Sesekali, ia menggigit-gigit kecil di daerah sekitar tengkuk dan pundak wanita itu.


Setelah cukup lama bergumul dalam posisi doggie, tiba-tiba Ayu meminta berhenti lalu membalik badannya dari posisi "rear entry" ke posisi berhadapan.


“Nikmati aku sepuas-puasnya malam ini Bang, mungkin ini pertama dan terakhir kalinya buat kita!” katanya dengan nafas tersenggal-senggal.


Habis berkata Ayu langsung mencium Faried dengan ganasnya sambil mencengkeram erat punggung pria itu, merapatkan tubuhnya dan meraih penisnya yang masih menegang. Faried mengangkat kaki kiri wanita itu dan mengarahkan penisnya ke liang kemaluannya. Dengan sekali dorong penis itu pun kembali memasuki liang kewanitaan Ayu yang sudah sangat berlendir itu. Setelah penisnya masuk, Faried pun menyentak-nyentaik batang kemaluannya lagi, semakin keras, semakin cepat dan bertenaga. Keduanya semakin lepas kontrol, erangan mereka sahut-menyahut berpadu dengan suara shower akibat dilanda nikmat yang luar biasa.


“Aaaarrgghh….entot memekku, Bang…, yah…gituuuuuhh…yang keras, yang keras….oohhhh, kontol Abang enak bangettthhh!” ceracau Ayu tidak karuan


Faried pun jadi merasa sangat perkasa dan semakin bergairah karena merasa berhasil membuat wanita itu keenakan. Maka ia semakin kuat menyodoki batang kemaluannya di dalam vagina Ayu. Seiring dengan semakin kuatnya rintihan dan erangannya. Ayu merasakan klimaksnya sudah sangat dekat.


"Saya keluaarr Bang..! Aaagghh..!" serunya sambil memeluk Faried erat-erat.


Ayu merasakan liang kemaluannya berdenyut-denyut seperti menghisap-hisap kemaluan Faried. Pria itu juga merasakan tubuh Ayu yang menjadi lemas setelah mengalami wanita orgasme. Namun ia masih saja memompa kemaluannya sambil menyangga tubuhnya. Mulutnya menghisap-hisap puting payudaranya, kiri-kanan sambil lidahnya berputar-putar pada ujungnya. Sesekali jari-jariku meraba dan memutar-mutar klitorisnya. Ayu seperti orang yang sedang tak sadarkan diri. Dia hanya ber-ah-uh saja sambil sesekali menciumi bibir tebal Faried. Setelah beberapa saat, mendadak dia mengejang lagi, melenguh dan mengerang,


"Aaagghh..! Ooohh Bang...saya keluaarr lagii..!"


Ayu engalami orgasmenya yang kedua kalinya atau istilahnya multiple orgasm. Ayu menciumi pria itu dengan ganasnya sebagai ekspresi kenikmatan orgasme yang diraihnya.


"Mbak..tahan yah.. saya juga mau keluar sedikit lagi.." kata Faried sambil memacu pantatnya lebih cepat lagi menghujam liang kemaluan Ayu.


Ayu hanya bisa pasrah. Akhirnya, Faried pun merasakan sebuah gelombang besar yang mencari jalan keluar. Ia mencoba untuk menahannya selama mungkin, tapi gelombang itu semakin besar dan semakin kuat, maka ia mengatur pernapasan, berkonsentrasi penuh. Tangannya yang kokoh mendekap erat tubuh Ayu.


"Aaahhh...saya keluar Mbaaakkk!" erangnya melepas orgasme


Faried merasakan kenikmatan yang luar biasa menjalari sekujur tubuhnya. Ada rasa hangat menyelubungi tubuhku. Kemaluannya berdenyut-denyut di dalam liang kemaluan Ayu. Perasaan yang baru pernah dirasakannya seumur hidup, bahkan dengan mantan istrinya di kampung yang lugu dan gagap seks. Ayu menjerit kecil merasakan semburan hangat memenuhi vaginanya memberinya sensasi nikmat yang luar biasa.


"Fantastis...beneran nih Abang cuma pernah main sama mantan istri Abang dulu?" Ayu setengah tak percaya.


"Iya sumpah Mbak, emang kenapa?" tanya pria itu keheranan.


"Jajan juga gak pernah?" tanya Ayu lagi sambil meraih penis Faried yang masih tegang yang baru saja lepas dari himpitan vaginanya


Faried menggeleng, menatap wajah Ayu yang semakin cantik pasca orgasme dan dalam keadaan basah di bawah siraman shower.


"Saya percaya, orang seperti Abang gak ada bakat untuk bohong" Ayu tertawa renyah.


Faried hanya nyengir kuda lalu mencium lembut kening wanita itu. Ketika mencuci batang kelelakiannya di bawah shower. Ayu memeluk Faried dari belakang dan membantu mencuci batang itu. Setelah selesai mandi bareng, mereka saling mengeringkan diri dengan handuk. Ketika Faried hendak mengenakan pakaiannya kembali, Ayu melarangnya dan menawarkan untuk bermalam di situ.


“Abang capek? Malam ini nginep aja di sini...hujannya juga belum berhenti!” tawar Ayu


“Eerrr...Mbak!” Faried menepuk pundak Ayu yang membelakanginya


“Iya...eeemmm!”


Saat Ayu menoleh, Faried mencuri sebuah ciuman dan dibopongnya Ayu ke arah tempat tidurnya yang berukuran queen size dengan warna serba pink. Diletakkannya tubuh telanjang Ayu perlahan di tempat tidurnya. Ia ciumi sekujur tubuhnya. Setelah puas, ia berbaring di sebelahnya, tangannya mendekap tubuh wanita itu dan mulutnya menciumi di sekitar daun telinganya sambil tangannya mengelus-elus punggungnya. Tak lama kemudian Ayu tertidur dengan senyum di bibirnya. Faried mengecup lembut bibirnya, lalu ikut tidur di sampingnya, beredekapan, telanjang di bawah selimut.


Keesokan pagi


Faried terbangun saat ia merasakan ada jari-jari halus meraba-raba dadanya dan ciuman di keningnya. Ayu telah lebih dahulu bangun dan dia membangunkan pria itu. Ayu mengecup bibir tebal itu perlahan dan mereka pun terlibat dalam sebuah "french kiss". Tangan Faried mengelusi punggung putih mulus Ayu sementara Ayu mengelus-elus rambutnya.


"Mbak...bukannya hari ini harus ke bandara? Nanti telat" kata Faried.


"Masih ada waktu..." jawab Ayu "pesawatnya berangkat sore jam lima, kenapa gak kita habiskan bersama saja?”


“Apa gak akan ada orang lain lagi ke sini? Kalau kita ketauan kan gak enak" Faried agak was-was kalau ketahuan ia sedang meniduri wanita simpanan orang kaya, bisa-bisa digebuki seperti di film-film.


“Nggak...dia terlalu sibuk jam-jam segini, nanti baru nyusul di bandara” Ayu tersenyum lalu mengecup kembali bibir Faried. “pokoknya Bang...sekarang ini waktu cuma buat kita berdua, santai dan nikmati aja!"


Ayu mulai menciumi sekujur tubuh sopir taksi itu, menjilati dadanya dan menggelitiki putingnya dengan lidahnya. Tangannya menjalari sekujur tubuhnya dan meraba-raba batang kelelakian Faried, memainkannya, mengelus dan mengurutnya sehingga penis itu pun bangun dari tidurnya. Ayu tersenyum. Perlahan, disusurinya perut, pusar dan pinggangku dengan lidahnya.


“Eeemmhh...Mbak!” desah Faried yang merasakan geli-geli nikmat yang membuatnya merinding. Ia mengusap-usap kepala Ayu dengan penuh kelembutan. Disisirnya rambut wanita itu dengan jari-jarinya dan sesekali diraba-raba tengkuk dan balik telinganya.


Perlahan jilatan lidah Ayu semakin turun ke arah selangkangan Faried. Dengan jemari tangan kirinya yang halus, ia menggenggam penis Faried, mendongakkannya, dan dia mulai menjilati daerah pangkalnya. Disusurinya penis itu dengan lidahnya hingga ke ujungnya yang bersunat. Ia memutar-mutar ujung lidahnya ke arah lubang dan sekitarnya pada ujung batang penis pria itu. Ia memang profesional dalam membuat Faried merasa seperti melayang.


Dari ujung penis itu, Ayu kembali menyusurinya hingga ke bawah, menjilat-jilat buah pelirnya, sesekali mengecup dan agak menghisapnya. Rasa aneh antara sakit, geli, dan enak membuat Faried menggeliat-geliat.


"Enakkhh...Mbak...geli...uuhh" desah Faried sambil meremasi rambut Ayu.


Ayu memandang pria itu dengan pandangan mata yang menggemaskan


“Sungguh bidadari sejati.. betapa cantiknya kamu Ayu!” kata Faried dalam hatinya


Tiba-tiba Ayu berhenti melakukan oral seksnya. Dia mendekati wajah Faried. Menciumnya dengan mesra dan lembut bibir tebal pria itu. Kemudian ia membalikkan badannya dan membelakangiku, seperti posisi "69". Ia memegangi penis Faried dan mulai menghisap, mengulum dan menjilatinya.


Kembali rasa geli dan nikmat mendera pria itu. Ia mencium wangi harum yang khas dari gerbang kewanitaan Ayu yang terpampang menantang di depan wajahnya. Gerbangnya sudah mulai terbuka, berwarna merah muda dengan dihiasi bulu-bulu halus dan dicukur rapi. Penisnya berdenyut-denyut di antara hisapan dan geseran lidah wanita itu. Ia memegangi dan mengelus pantat Ayu dengan kedua tangannya. Ia arahkan gerbang kewanitaannya ke arah mulutnya. Dijilatinya bibir vagina itu dan daerah sekitarnya. Ayu mengerang di antara hisapan-hisapannya pada batang kemaluan Faried. Vagina itu mulai licin dan basah, serta terus menebarkan aroma yang khas harum karena rajin dirawat.


Faried mendapati sebuah tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya, dijilatinya benda itu. Ayu pun mengerang dan mendesis, sejenak melepaskan batang kelelakian itu dari mulutnya. Faried menjilat dengan lembut dan sesekali lidahnya menggeser-geser tonjolan kecil yang ada di belahan gerbang kewanitaan Ayu. Ayu mendongakkan kepalanya dan mendesis-desis kenikmatan sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.


"Oooh Bang... kok jilatannya enak bangethhh!" kata Ayu di antara erangannya.


Ayu mengurut dan mengocok penis itu makin cepat sambil mulutnya menghisap ujungnya. Kedua tangan Faried tidak tinggal diam saat lidahnya beraktivitas. Terkadang jari-jari tangannya menggaruk mesra punggung Ayu dengan lembut, atau meraba, mengusap dan memainkan payudaranya yang menggantung menantang di atas perutnya.


Setelah beberapa lama saling menjilat, menghisap dan menikmati permainan ini, Ayu beranjak dari posisinya.


"Bang...sekarang yah!" katanya sambil memegang penis yang tegang tegak kaku menghadap langit-langit.


Ayu mengangkangi Faried sambil memunggunginya. Ia mengarahkan batang kelelakian itu ke gerbang kewanitaannya. Faried menggeser-geserkan ujung penisnya pada tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya untuk membantu penisnya masuk. Ayu memejamkan matanya sambil mendesah saat penis pria itu memasuki liang kemaluannya yang sudah licin basah. Pelan.. lembut.. Ayu perlahan menurunkan pantatnya, membuat penis itu masuk semakin dalam. Terus turun hingga akhirnya mentok dan menyisakan kira-kira seperempat dari panjang penis pria itu. Ayu agak terpekik saat ujung penis itu menyentuh dinding rahimnya. Kemudian Ayu mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun-naik-turun. Pada mulanya perlahan hingga beberapa gerakan, akhirnya Ayu semakin cepat. Mereka menikmati sensasi yang luar biasa saat kedua alat kelamin keduanya menyatu dan saling bergesekan. Ayu berulang kali mendesah, melenguh, mendesis, meracaukan kata-kata yang tak jelas. Faried juga menikmatinya dengan pikiran yang melayang meresapi rasa geli dan nikmat yang menjalari sekujur tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, Faried mengangkat badannya sekitar 45 derajat dan bersandar pada kepala tempat tidur Ayu. Ayu sambil membelakangi bertumpu pada perut pria itu dan terus mengayuh tubuhnya naik-turun pada selangkangan pria itu divariasikan dengan memutar-mutar pinggulnya.


"Aaaghh.. Mmmbbakkk.." teriak Faried sambil memegangi pinggangnya yang ramping dan putih mulus karena penisnya serasa dipelintir ketika Ayu meliuk-liukkan tubuhnya.


Ia meraih tubuh Ayu dari belakang. Ia remas-remas lembut kedua payudaranya yang terasa keras tapi kenyal. Putingnya ia pilin-pilin dengan mesra. Ayu menghentikan sejenak ayunan pantatnya. Dia mendesah, mendesis. Faried merasakan batang kemaluannya dan liang kemaluan Ayu sama-sama berdenyut-denyut. Diciuminya tengkuk wanita itu, sesekali digigit-gigit ringan tengkuk, bahu kanannya, dan belakang telinganya.


“Putar sini Mbak!" pinta Faried pada Ayu untuk membalikkan posisinya.


Wanita itu berbalik tanpa melepaskan batang kemaluan Faried dari liang kemaluannya. Batang kemaluan itu pun serasa ada yang memuntirnya. Sekarang keduanya berhadapan. Mereka saling memeluk, saling meraba. Faried mereasakan penisnya masih berdenyut-denyut di dalam liang kemaluan Ayu yang juga terasa berdenyut-denyut seperti menghisap batang kemaluan itu. Mereka berpagutan, saling menggigit, menghisap dan mengulum. Tangan dan jemari Faried dengan lincahnya bergerak di sekujur badan Ayu, membuat wanita itu kegelian dan merinding. Sekitar setengah jam dalam posisi demikian, akhirnya Faried merasakan ada sensasi luar biasa yang membuat tubuhnya serasa mau meledak. Ia mengerang dan mengatur napasnya. Rasanya ada gelombang besar dari pinggangnya yang hendak mencari jalan keluar melalui batang kemaluannya.


"Mbak Ayu sayang...saya hampir keluar sedikit lagi.." kata Faried terengah-engah.


"Barengan ya Bang!" jawab Ayu lalu memagut bibir tebal pria itu


Faried pun balas menciumnya. Mereka sama-sama diam dalam posisi berciuman sambil terus memacu tubuh. Faried merasakan seperti ada aliran listrik mulai merayapi sekujur tubuhnya. Sekujur tubuhnya terasa hangat, begitu juga dengan tubuh Ayu. Sambil terus bermain lidah, mereka menikmati sensasi yang luar biasa itu.


“Aaaaahhhhh....!!” erang Faried melepas ciuman


“Iyaahhhh....teruusss.....teruussshhh!!”Ayu juga merasakan hal yang sama


Faried merasa seperti melayang ke langit. Senyap, pandangan matanya berkunang-kunang walaupun memejamkan matanya. Rasa nikmat yang aneh disertai oleh rambatan sensasi menjalari setiap bagian tubuh mereka. Mereka mengejang hingga akhirnya merasakan suatu yang sangat melegakan. Nikmat...cahaya terang yang membuat berkunang-kunang itu berubah menjadi kegelapan. Ia rubuh menindih tubuh Ayu, mereka terdiam dengan nafas naik turun. Ayu menatap wajah ndeso si sopir taksi, dia tersenyum penuh arti dan kemudian mencium keningnya. Faried balas memagut kecil dagu Ayu. Tak lama, Ayu mendorong tubuh pria itu hingga berbaring saling bersebelahan.


“Istirahat dulu yuk, abis ini kita makan!” kata Ayu lalu mengajak Faried kembali ke balik selimut. Mereka berpelukan sambil masih dalam kondisi sama-sama telanjang bulat.


Sore harinya


Satu hal yang mengganjal di hati Faried sejak peristiwa semalam dan tadi pagi, ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Ayu namun belum ada keberanian untuk itu. Faried memang pria yang tulus, namun pengetahuannya tentang wanita terbilang minim. Kepada mantan istrinya dulu saja ia tidak pernah mengatakan ‘saya cinta kamu’ karena memang mereka dijodohkan. Pasangan yang ketika itu masih sangat hijautidak pernah merasakan saat-saat romantis hingga akhirnya perceraian mereka. Sepanjang perjalanan ke bandara ia tidak ada kesempatan untuk itu karena Ayu sibuk bicara melalui ponselnya, yang pertama dengan seorang teman, yang kedua dengan si direktur, yang membakar api cemburu dalam hati Faried. Ketika taksi yang dikemudikannya akhirnya tiba di bandara, Faried turun duluan dan menurunkan barang bawaan Ayu dari bagasi, saat itu Ayu masih berbicara di ponselnya. Ini adalah saat terakhir, juga mumpung antrian kendaraan di gerbang keberangkatan tidak terlalu padat, maka Faried pun membulatkan tekadnya, ia masuk ke jok kemudi. Ayu baru saja hendak membuka handle pintu belakang ketika sopir taksi itu akhirnya berseru.


"Ayu, tunggu!" pertama kali ia memanggil wanita itu dengan namanya.


Ia mengurungkan niatnya dan memandang nya. Matanya bertanya. Dada pria itu berdegup kencang.


"Saya mencintai kamu, Ayu," Faried mengungkapkan perasaan itu dengan tenggorokan tercekat.


Ayu menatap tak percaya. Faried segera meraih tangannya, meraba jemarinya yang halus, mengalirkan keyakinan. Mata mereka saling bertatapan tanpa berkata-kata, hening selama beberapa saat


"Hentikan semua ini, Ayu. Kamu seharusnya hidup lebih layak, terhormat dan bernilai. Apa yang kamu lakukan selama ini hanya akan membuat hidupmu didera kesalahan dan dosa. Hiduplah dengan saya. Kita kawin. Saya berjanji akan membahagiakan kamu."


Ayu menggigit bibir. Ia tampaknya memikirkan sesuatu. Faried berharap-harap cemas dalam hatinya, ia menggigit bibir bawahnya dan jantungnya berdebar kencang sekali, inilah pertama kalinya dalam hidup ia terus terang mengungkapkan cinta pada seorang wanita. Ia sudah menabah-nabahkan hati untuk siap menerima kemungkinan terburuk. Matanya memandang Ayu dengan tajam dan penuh harap.


Ayu akhirnya tersenyum, ia mempererat genggaman tangan si sopir taksi. Tatapan matanya seperti menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang sangat misterius sebelum akhirnya berkata,


"Baiklah Bang....” ia berhenti sesaat, “saya memang harus menentukan pilihan, pada akhirnya. tapi kita hidup dalam dunia yang berbeda. Bang, Abang tak akan bisa memahami saya, seperti saya pun tak bisa memahami Abang. Terima kasih atas ketulusan tawaran Abang. Saya menghargainya. Biarkan saya memilih dan melewati jalan yang menurut saya terbaik. Abang orang baik, terus terang, saya suka Abang, seandainya takdir mempertemukan kita lebih awal atau di tempat yang lain dari sekarang, kita mungkin bisa bersatu. Saya doakan Abang kelak mendapat jodoh yang baik...jauh lebih baik dan suci, tidak seperti wanita di depanmu ini. Maafkan saya...selamat tinggal!" Ayu mengucapkannya dengan bibir bergetar, pelupuk matanya basah, namun ia menyekanya cepat-cepat, lalu membuka handle pintu tergesa-gesa dan pergi. Faried tak bisa mencegahnya lagi. Ia hanya sempat memandangi punggungnya serta gaunnya yang berkibar ditiup angin berjalan memasuki bandara ke gerbang keberangkatan, untuk terakhir kali tanpa menoleh ke belakang, dengan pandangan kosong. Terasa ada yang hilang dalam dirinya, bak istana pasir yang diterpa ombak dan lenyap seketika, sesuatu yang tak dapat ia ungkapkan bagaimana adanya. Dua puluh menit Faried termenung di taksinya di luar bandara, matanya kosong menatap langit biru. Sebagian dirinya serasa hilang bersama wanita itu. Tiga batang rokok telah dihabiskannya sejak Ayu meninggalkannya tadi.


“Faried...ayo kamu bisa! Dunia belumlah kiamat, kehidupan terus berjalan! Bangkit!! Bangkit!! Jangan harap Bapak akan menemui kamu di akhirat nanti kalau kamu sampai bunuh diri gara-gara patah hati! Bangkit...bangkit...bangg...bangg” Faried sekonyong-konyong mendapat seruan itu dalam lamunannya, almarhum ayahnya seperti sedang menyemangatinya


“Bang....bang...narik ga nih?” tiba-tiba saja sebuah suara dari sebelah menyadarkannya, rupanya ia setengah tertidur di tengah lamunannya.


“Ooohh....iya...iya Pak, narik lah...ayo silakan masuk!” ia membukakan pintu belakang untuk pria berumur empat puluhan itu, “kemana nih Pak?”


“Sudirman, cuma lagi ada demo deket situ...bisa ga Bang? Saya buru-buru nih, daritadi udah dua sopir nolak!” jawab pria yang menenteng tas laptop itu.


“Beres Pak...saya coba lewat jalan tikus, moga-moga keburu!” sahut Faried lalu segera tancap gas dari situ,

“Ayo Faried, kamu bisa, semangat!!” ia kembali menyemangati dirinya, ia harus tegar seperti apa yang selalu ayahnya ajarkan sejak kecil.


Delapan tahun kemudian
Foodcourt sebuah mall


“Oke..oke..., kamu urus saja, yang ginian gak usah pakai lapor, belajar lah memutuskan sendiri!” Faried berbicara lewat ponsel dengan seseorang, “pokoknya pastikan jangan sampai terlambat, ketepatan waktu yang bikin perusahaan kita dipercaya orang, ngerti?!”


“Baik Pak...saya usahakan sebaik mungkin, Bapak tenang aja, nanti saya kabari lagi” jawab suara di seberang sana.


“Gitu dong....oke ditunggu kabar baiknya, sampai nanti ya!” ia menuntup pembicaraan lalu melanjutkan makannya yang tinggal sedikit lagi.


Faried yang sekarang sudah berbeda dari Faried yang dulu, rambutnya kini telah dicukur cepak dan rapi, sebagian kecil nampak telah beruban, di atas bibirnya yang tebal itu telah tumbuh kumis tipis. Soal level kegantengan yang di bawah rata-rata sih memang tidak terlalu mengalami kemajuan, tapi kini ia terlihat lebih dewasa. Pakaian yang melekat di tubuhnya bukan lagi seragam sopir taksi seperti dulu, melainkan sebuah kaos berkerah merek ternama dan ponsel yang dipakainya bukan lagi barang seken atau murahan lagi, melainkan keluaran terbaru yang masih mulus. Hasil kerja keras, pengalaman dan tabungannya selama ini telah mengubah nasibnya, kini ia telah memiliki sebuah perusahaan travel yang sangat berkembang, bahkan telah membuka cabang di kota lain. Ia baru saja menyeruput minumannya ketika sesuatu tiba-tiba membentur sepatunya. Ia melongok ke bawah meja dan menemukan sebuah mobil-mobilan. Seorang bocah laki-laki mengejar dari belakang dan hendak mengambil mobil itu.


“Michael...Mom said don’t play it here...now you see!” sahut seorang wanita


Faried memungut mainan itu dan memberikannya kembali pada si bocah berparas blasteran bule itu.


“Thank you sir!” kata si anak.


“Maaf ya Pak...come say sorry to uncle!” kata wanita itu, “Hah....kamu!”


Faried juga tertegun begitu melihat ibu dari anak itu, mereka saling tatap selama beberapa saat seperti tidak percaya pengelihatan masing-masing.


“Faried? Bang Faried?” wanita itu membuka suara duluan.


“Iya...Ayu kan?” yang dijawab wanita itu dengan anggukan kepala.


Tidak banyak yang berubah pada wanita itu, ia tetap cantik dan tubuhnya masih langsing walau telah memiliki anak. Rambutnya kini agak bergelombang dan disepuh kecoklatan. Pakaian yang dikenakannya serta wajahnya dengan make up tipis membuat penampilannya jadi keibuan.


“Eeemmm...sudah lama ga jumpa ya...gimana kabarnya sekarang?” sapa Faried yang merasa senang kembali bertemu dengan wanita itu, ia sangat penasaran dengan kabarnya selama tujuh tahun ini yang tidak pernah kedengaran lagi, “ayo duduk dulu!”


Ayu duduk di depan Faried dan keduanya saling berpandangan dengan gembira.


"Kelihatannya banyak yang sudah berubah" kata Ayu melihat penampilan pria yang dulu menjadi sopir langganannya itu yang juga pernah menghabiskan semalam penuh gairah bersamanya.


"Ya...banyak, sangat banyak, kehidupan ini memang dramatis" jawab Faried "kamu di mana saja selama ini? Pulang kampung?"


"Bukan...jauh...jauh sekali, benar kata Abang kehidupan itu dramatis, selain itu juga penuh misteri"


Ayu kini telah menikah dengan seorang bule Inggris. Setahun setelah perpisahan mereka di bandara, ia berhenti menjadi wanita simpanan si direktur yang mulai berpindah ke lain hati. Di tengah kesepiannya, ia berkenalan dengan ekspatriat asal Inggris, hubungan mereka makin serius. Pria itu ternyata tulus mencintai Ayu tanpa memandang masa lalunya yang kelam, ia sendiri seorang duda tanpa anak. Hubungan mereka pun berlanjut ke pernikahan dan pria itu memboyong Ayu ke negaranya. Demikian pula Faried yang kini telah sukses, ia sudah menikah empat tahun yang lalu dan memiliki seorang putri berusia tiga tahun. Mereka berbagi cerita sambil tertawa-tawa, sesekali Ayu memperingatkan anaknya yang asyik dengan mainannya agar tidak jauh-jauh darinya.


“Akhirnya, hari ini saya benar-benar lega” kata Faried,


“rasa penasaran selama ini selesai sudah dan kamu menemukan kebahagiaan kamu, seperti yang dulu kita obrolin di taksi, ingat?”


“Ya...doa saya agar Abang mendapat jodoh yang baik pun sudah terjawab. Tuhan memang kadang terlalu baik pada umatnya Bang, saya tidak pernah bermimpi wanita seperti saya akhirnya bisa menjadi ibu dan istri seperti sekarang ini, bagi wanita seperti saya, ini lebih dari yang saya harapkan” mata Ayu nampak berkaca-kaca, nampaknya ia antara sedih dan gembira membandingkan dirinya dulu dan sekarang.


“Satu misteri kehidupan yang saya akhirnya singkap hari ini, kadang memang ada dua orang saling mencintai tapi tidak ditakdirkan untuk bersatu, seperti ada jurang yang dalam yang memisahkan mereka, namun pada akhirnya mereka akan menemukan kebahagiaannya di jalannya masing-masing dan bersama pasangannya yang lain yang berada di satu tebing dengan mereka” Faried berfilsafat.


“.....dan kebahagiaan mereka pun bertambah ketika melihat cinta lamanya di seberang jurang itu akhirnya berbahagia walau bersama orang lain” Ayu menyambung lalu mereka hening, saling tatap selama kira-kira sepuluh detik sementara Michael asyik membuka tutup pintu mobil-mobilannya.


“Ahahha...abang ambil kuliah filsafat ya setelah saya pergi?” Ayu tiba-tiba tertawa renyah sambil menangkap mobil-mobilan yang diluncurkan anaknya padanya di meja.


“Hehe...sopir taksi kaya saya umur waktu itu udah kepala tiga mana sempat kuliah lagi, filsafat itu kadang keluar dari pengalaman hidup kita kok Lin, kan para filsuf sama nabi juga mendapatkannya dari pengalaman hidup dan lingkungan mereka dulu, cuma mereka lebih pandai merenungkan dan mengutarakan pada orang banyak”


“Tuh...kan berfilsafat lagi...hihihi....!” mereka saling tertawa lepas, lega setelah beban di hati masing-masing akhirnya terangkat.


Tiba-tiba BB Ayu berbunyi dan ia permisi untuk mengangkatnya.


“Ok baby...we’ll meet you soon!” kata Ayu lalu menuntup pembicaraan


“Papanya...udah nunggu di depan ngejemput!” kata Ayu, “Oke Bang...kita sudah harus berpisah lagi, tapi kali ini perpisahan yang melegakan, ya kan?” wanita itu lalu bangkit dan berpamitan pada Faried, “Michael, say goodbye to uncle!” katanya pada buah hatinya.


“Eeeii...Ma...udah selesai salonnya?” Faried tiba-tiba melambai ke arah belakang Ayu pada seorang wanita lain yang menghampiri mereka, “ini istri saya, Anita!” ia memperkenalkan wanita itu pada Ayu, “Ini Ayu...langganan taksi dulu waktu narik hehehe....”


“Ya udahlah, rapiin rambut aja ngapain pake lama?” jawab wanita itu lalu beralih menyapa Ayu dan anaknya, “Hai....”


Anita dengan senyum ramah menjabat tangan Ayu dan juga membelai anak itu, gemas akan wajah indo-nya yang imut-imut. Secara fisik memang Anita kalah dibanding Ayu, kulitnya tidak terlalu putih dan agak gemuk, apalagi kini sedang hamil empat bulan. Namun, wanita inilah yang banyak membantu Faried mencapai sukses, ia adalah pedagang kecil di pasar yang adalah tetangga di dekat kontrakan Faried. Seorang wanita yang rajin dan ulet, sudah terbiasa kerja keras membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue di rumahnya dan secara online, belakangan ia mulai membuat kuenya sendiri. Anita dan keluarganya juga cocok dengan Faried yang jujur dan pekerja keras, hubungan mereka semakin dalam terutama setelah Faried berpisah dari Ayu dulu hingga akhirnya mereka menikah dan mempunyai anak. Dari seluruh keuntungan usaha jualan kue keringnya lah Anita membantu Faried mendirikan usahanya sendiri hingga akhirnya sukses setelah melalui jalan yang cukup terjal dan berliku. Mereka pun akhirnya berpisah setelah ngobrol basa-basi sebentar.


“Ayo Pa, kalau telat, nanti kasian Lina nunggu sendirian di sekolah, udah mau jamnya nih!” kata Anita mengajak suaminya untuk segera meninggalkan mall itu.


“Oke Ma, yukk!!” Faried menggandeng tangan istrinya dan mempercepat langkah.


“Omong-omong Papa punya langganan cantik juga ya...pantes Papa betah lama-lama jadi sopir taksi dulu hehehe” canda Anita sambil tetap berjalan.


Faried hanya tertawa nyengir, hatinya tenang kini, ia dan Ayu telah menemukan kebahagiaannya masing-masing. Segala sesuatu memang ada waktunya masing-masing, manusia hanya perlu berusaha sebaik-baiknya, kelak karma dan darma akan datang pada saatnya kelak

Ngentot Si Pembantu Tentangga Nikmat

Ngentot Si Pembantu Tentangga Nikmat ~ Seperti biasanya Berita Gue akan berbagi kumpulan cerita hanya di blog http://muna-fik.blogspot.com/ Berita gue akan Berbagi Cerita Ngentot, Cerita ML, Sex Porno dan Cerita Bercinta. Kali ini Berita gue mengambil topik cerita berjudul "Ngentot Si Pembantu Tentangga Nikmat"
 


Berikut Cerita yang Berjudul "Ngentot Si Pembantu Tentangga Nikmat"

Ngentot Si Pembantu Tentangga Nikmat-Aku ditinggal di suatu komplex perumahan, kebetulan disebelah rumahku dibuat kantoran. Kalo siang memang ada beberapa karyawan yang mengerjakan sesuatu diditu, tetapi malam hari kelihatannya sepi. Subuh itu ketika aku sedang merapikan tanaman di kebun kulihat ada perempuan muda yang seksi sekali keluar dari rumah sebelah. Kelihatannya dia mau olah raga karena dia memakai celana pendek dan kaos saja. Yang menarik adalah pakaiannya ketat menempel dibadannya sehingga mempertontonkan keindahan toketnya yang montok dan pantatnya yang besar. Segera aku keluar dari rumah dan olahraga ringan didepan rumah, menunggu di kembali lagi. Kebetulan dia hanya berlari2 jalanan rumahku yang cuma terdiri dari beberapa rumah saja. Aku tersenyum, dan menyapanya : "Tinggal disebelahi ya, rajin banget olahraga, pantes badannya kenceng dan montok".

Mataku jelalatan memandangi bodinya dari atas sampe ke bawah. "Ya, abis gak ada yang mau nememin ya jogging sendirilah, bapak tinggal disini ya. Suka kan sama yang montok kan pak", jawabnya menggoda. "Suka banget, saya Ardi", kataku memperkenalkan diri. "Saya Ines, pak", jawabnya. Kuremas tangannya ketika berjabat tangan.

"Kok sendirian pak", tanyanya lagi. "Saya sudah cerai dan anak saya ikut ibunya. Kamu sendiri?", jawabku.


"Iya pak, Ines sendiri, nungguin kantor. Kalo siang bantu2 yang kerja disini, merapikan rumah, menyiapkan makan dan minum", jawabnya. "Kalo malem", tanyaku. "Kalo malem ya bengong pak, abis gak ada yang nemenin", katanya sambil tersenyum genit. "Kalo nemenin saya mau enggak", kataku mancing. "Kalo malem, kerjaan dah beres ya ayo aja pak, asal saya enggak mengganggu bapak", jawabnya. "O ya enggak lah, masak ditemeni ngobrol sama cewek yang montok kaya kamu terganggu. Paling yang terganggu adikku", kataku lagi. "O, bapak tinggal ama adik bapak", jawabnya gak mengerti. "Sendiri sih, adik yang kecil yang terganggu, pengen berontak kalo ngeliat cewek montok kaya kamu", jawabku sambil tersenyum. "Ih bapak, genit", katanya lagi. "Ya sudah, sampe ntar malem ya", kataku. katanya. "Boleh gak tau no HP nya. Supaya gampang kalo mau janjian". Dia memberikan no HPnya dan masing2 kembali kerumah.

Malam sudah agak larut ketika aku sms dia. Dia mengenakan sarung bali dan tanktop saja. Aku sudah menunggunya dipintu pagerku, menungguku dikegelapan karena lampu depan rumahnya sengaja tidak kunyalakan. "Masuk yuk", kataku sambil mengunci pintu pager. Dia kugandeng masuk kerumahku. Makan malem yang kubelinya direstoran sudah kusiapkan di meja makan. Aku mengajaknya makan sambil ngobrol. Selesai makan dia membantunya mencuci peralatan makan, kemudian kami duduk disofa di depan TV. Aku duduk disebelahnya, langsung memeluk pundaknya. Sarung balinya agak terangkat sehingga pahanya yang putih terlihat dan langsung kucium bibirnya. Dia mendorongku, "eit sabar dulu dong..bapak udah napsu banget ya". "Iya nih", jawabku sambil kembali melumat bibirnya. Dia pun membalas dengan memainkan lidahnya, sesekali dia menghisap lidahku. Tanganku mulai memainkan toketnya, dan mulai menciumi lehernya.

"shhh..uhfff..terus pak..enak banget", desahnya. Sepertinya dia sudah pengalaman urusan begituan, padahal umurnya masih muda, paling ampir 20tahunan. Kumasukkan tanganku kedalam tank tonktopnya dan ternyata dia tidak pake bh..kuremas-remas kedua toketnya. Dia nampak sangat menikmatinya, tangannya mengelus-elus kepalaku dan mulutnya mengeluarkan desahan desahan kenikmatan. Kulepaskan tanktop serta sarung balinya dan kini dia telah bugil karena dia juga sudah tidak mngenakan cd. Dia pun juga melepaskan baju dan celana pendek serta cd ku. "Wow gede banget kon tol bapak, ga muat nih masuk no nok Ines", katanya sambil mengelus-ngelus kon tolku.

"Lebih gede mana kon tolku atau kon tol pacarmu?" tanyaku. "Ines gak punya pacar pak", jawabnya. "Tapi sudah pernah ngerasain kon tolkan", jawabku mendesaknya.


"Iya sih pak. Ines berapa kali dien tot ama majikan sebelumnya. kon tol bapak jauh lebih gede, Ines takut ntar no nok Ines jadi longgar kalo sering kemasukan kon tol segede ini", jawabnya, sementara itu tangannya masih mengelus-elus kon tolku. Dia pun tersenyum dan langsung melumat bibir ku, aku pun membalas dengan hangat dan kumainkan i tilnya dengan jari-jariku. "Shhh...uhffff.", erangnya. Kini kujilat pentil toketnya. "Shhh...oh..ouchhh enak banget pak, terus pak, gak tahan nih", kembali dia mendesah. Kini kepalaku turun kearah perutnya dan tangannya mendorong kepalaku supaya lebih turun ke bawah. Kuturunkan kepalaku arah no noknya, jembut nya lebat, kemudian ku mainkan i tilnya dengan lidahku. "Ouh...uhff.....enak banget pak, lidah bapak enak banget..terusin pak, puasin Ines malam ini ya pak", suaranya mulai meracau. "Kok muasin kamu, kamu yang mestinya muasin aku", kataku. "Sama2 muasin pak, aah", desahnya lagi. "Lanjutin lagi pak, lidah bapak enak banget". Aku pun melanjutan memainkan i tilnya dan jariku memainkan bibir no noknya. "uhfff..enak banget pak, Ines ngga tahan", desahnya kembali. Rupanya napsunya besar banget sehingga sudah berkobar2 seperti ini. Akupun semakin liar memainkan lidah ku kadang kumasukkan kedalam nonoknya. Dia pun kadang menjambak rambut ku menahan nikmat, tanpa ada rasa sungkan. "Pak Ines ga tahan nih, Ines mau nyampe, terus pak, ouhhh.....Ines nyampe pak....uhffffff", jeritnya, cairan kenikmatan keluar dari no noknya dan aku terus menjilatnya sampai bersih. "Aduh pak, bapak hebat banget. Belum dien tot Ines udah nyampe". Aku pun maju kedepan sehingga kon tolku kini berada didepan bibirnya. Kutarik kepalanya sehingga kon tolku kini menempel dibibirnya. Dia membuka mulutnya dan kudorong kon tolku pelan pelan sehingga kon tolku masuk setengah. Dia pun mengulumnya, mulutnya memompa kon tolku.


"Ouhhh nikmat banget Nes, terusin isep yang kuat kon tolku", kini aku yang mendesah. Dia pun melepaskan kon tolku dan menyuruhku berbaring di sofa. "Bapak berbaring aja, biar Ines isep, kon tol bapak enak banget", kini dia asik mengulum kon tolku dengan ganasnya dan tangannya memainkan biji pelirku.


"Ouhh..Nes enak banget, terus, kocok terus kon tolku pake mulut kamu", aku mendesah kembali saking nikmatnya. Dia melanjutkan mengulum kon tol ku. Kemudian aku menghentikan aktivitasnya, dia kubaringkan di sofa dan aku mulai menjilati i tilnya lagi. Dia kembali berteriak2 minta segera dien tot. Kugendong dia dan kubawa ke kamar. Di kamar kuletakkan dia dikasur dan aku menindihnya. Aku memainkan kon tol ku di bibir no noknya. "shhhh..ouhhh masukin pak, Ines ga tahan nih", pintanya. Akupun memasukkan kon tolku pelan-pelan...agak susah karena kon tolku lumayan besar walaupun no noknya sudah sangat becek. "Dorong yang dalem pak, kon tol bapak enak banget, terus paak", kembali dia mendesah. Bles.... kon tolku masuk semua kedalam no noknya. Aku pun mulai memompa kon tolku. "ouh..hhshhhh...uhfff..terus pak, en tot terus no nok Ines"., desahnya lagi. "Enak gak kon tolku, mana lebih enak kon tolku atau kon tolnya majikan kamu", tanyaku. "kon tol bapak lebih enak, gede banget, terus pak, en tot terus, tusuk yang dalem no nok Ines", jawabnya sambil bergerak tidak teratur menahan nikmat. "Terus pak, Ines aku mau nyampe nihh, en tot terus no nok Ines, terus...ouhhhh...Ines nyampe pak", jeritnya sambil menggelepar. kon tol ku serasa dijepit dan kemudian terasa hangat karena cairan kenikmatannnya.

Akupun terus memompa no noknya yang sudah sangat becek. Clep..clep terdengar bunyi dari no noknya yang terus ku pompa. "Nes no nok kamu enak banget, aku en tot terus ya...kon tolku rasanya ga mau lepas", kataku. "en tot terus no nok Ines pak, enak banget, terus pak, kon tol bapak perkasa banget", desahnya berulang2. Dia pun mengoyangkan pingulnya mengikuti irama kon tolku, tampaknya napsunya telah bangkit kembali.Kutekuk kakinya kedepan sehingga kon tolku lebihleluasa menerobos no noknya. "oh nikmat banget pak, kon tol bapak masuk dalam banget, terus pak, en tot yang kuat no nok Ines, nikmatin sepuas bapak ..ouhhhh...uhfff", desahnya lagi. "Pak, Ines mau nyampe lagi nihh....terus pak, yang kenceng, kon tol bapak enak pak". Akupun mempercepat goyangan ku dan sekali lagi tubuhnya kembali mengejang dan menumpahkan cairan kenikmatan. Kucabut kon tolku...dan kulihat no noknya nampak merah dan cairan kenikmatannya keluar mebasahi kasur. "Ines cape banget pak, ternyata bapak hebat muasin wanita.", katanya lemes. Aku pun melumat bibirnya dengan nafsu. "Nes, isep kon tol ku lagi dong", pintaku. Walaupun lemes, dia mulai mengulum kon tolku lagi."Bapak kok kuat banget sihhh, mulai tadi belum keluar, no nok Ines aja udah tiga kali", katanya sambil mengocok kon tolku, kemudian kembali diemutnya. Aku hanya tersenyum, "terus Nes, kuluman kamu enak banget, isep yang kuat kon tolku". Dia pun denga ganas mengulum kon tolku. Pak, en tot Ines lagi ya, sekarang ya, Ines ga tahan nihhh, kon tol bapak gede banget...no nok Ines udah gatel nih pengen rasain lagi kon tol bapak", pintanya. Cerita Dewasa


Luar biasa napsunya, katanya udah lemes tapi masih minta dien tot lagi. Aku pun menyuruhnya menungging ala dogy style, kudorong pelan-pelan kon tolku sampai amblas kedalam. "ouh...nikmat banget kon tol bapak, terus pak, goyang", pintanya. Ku pompa terus no nok nya. Kembali dia mendesah2, "Pak, enak banget, shhhh..uhff....en tot terus pak, en tot Ines terus pak, Ines suka dien tot ama bapak". Di mulai meracau tidak karuan. Aku hanya diam karena sedang berkonsentrasi mengkon toli no noknya. "Pak, Ines mau keluar nih, terus pak, en tot terus....ouh.". Cret..cret..cret..terasa kon tolku disiram oleh cairan cintanya. Aku pun terus memompanya karena aku belum apa-apa. "Enak Nes kon tol ku", tanyaku.Enak banget pak, en tot terus no nok Ines, terus pak", jawabnya sambil memutar-mutar pingulnya sehingga kon tolku serasa terpilin-pilin. "Terus Nes..aku mau ngecret nih...enak banget", giliranku yang mendesah. "Iya pak, Ines juga mau keluar lagi, en tot yang kenceng no nok Ines pak", jawabnya mendesah juga. "Ngecretin dimana Nes", tanyaku. "Ngecretin didalam aja pak, no nok Ines pengen ngerasin peju bapak", jawabnya. Aku pun menggenjot dengan cepat no noknya. "Ines keluar nih pak...ouh...aahhhh", dan akhirnya aku juga, "Aku juga mNes.....ouhhhhh". Cret..cret..cret aku pun menumpahkan pejuku didalam no noknya sambil kupompa pelan-pelan. Pejuku sebagian keluar lewat bibir no noknya. "Enak banget di en tot sama bapak...uhfff...Ines cape banget", katanya kembali lemes. Aku pun mencabut kon tolku, Ines pun tersenyum manis dan dengan lahap mengulum kon tol ku yang masih lemas, dia memasukkan semua kon tolku sampai kemulutnya dan menghisapnya.


Kurasakan lidahnya bermain diujung kon tolku. "ohhh nikmat banget Nes...terus, kon tolku mulai bangun nih". kon tol ku pun mulai tegang kembali, ines mengulumnya dengan lembut seperti sedang menikmati lolypop. "Cepet juga nih ngacengnya", katanya. "Isep terus ya..isepan kamu enak banget", jawabku terengah. Ines pun meghisap kon tolku sambil lidahnya menggelitik ujungnya. Hampir sepuluh menit dia menghisap kon tolku, "masukin lagi ya pak, ines udah ga tahan nih liat kon tol bapak". Ines pun jongkok diatas kon tol ku dan mengarahkan kon tol ku keno noknya. Pelan -pelan tapi pasti dia menurunkun pantatnya.kulihat rona mukanya yang memerah menahan nikmat yang diberikan oleh kon tol ku. "ouh...kon tol bapak kok bisa gede banget sih, kayanya sampe ke rahim ines deh". Ines pun mulai menggoyang pinggulnya seperti inul sedang goyang ngebor. "ouhh Nes, enak banget, terus", kon tol ku serasa di pijat dari segala arah sementara tangan ku meremas toketnya dengan kuat menahan rasa nikmat. "oh pak..kon tol bapak enak banget ...remas yang kuat toket ines". Aku pun meremas toketnya dengan kuat dan menggoyang pinggulku...

"Nikmat banget pak. Ines mau nyampe nih....terus", dia pun meremas tanganku yang berada ditoketnya,sepertinya dia sedang menahan sesuatu yang sangat nikmat dan kepalanya menengadah keatas. "ouhhhh....Ines keluar lagi pak, nikmat banget.....uhffff". Cairan cintanya pun mengalir dikon tolku dan membasahi jembut ku. Dia pun menunduk mencium bibir ku sementara kon tolku masih berada dino noknya. "Pak, nikmat banget deh, Ines capek banget nih". Aku pun tidak memperdulikannya kubaringkan dia dan ku pompa kembali no noknya. "ouhhh, terus pak".

Aku pun memompa semakin liar. "no nok kamu enak banget Nes ....terus Nes ...goyang terus pinggul kamu, aku mau ngecret nih". Ines pun menggoyang pinggulnya. "Terus Nes, aah", akhirnyapejuku pun menyembur kembali didalem no noknya. "Pak, nikmat banget deh", katanya terengah. Ines berbaring mengangkang, pejunya basah karena lelehan cairan no noknya dan pejuku yangkeluar ketika kon tol kucabut. aku menelungkup diselangkangannya dan mulai menjilati no noknya yang sudah sangat becek, terasa asin namun nikmat. "Pak, masih pengen ya, bapak kuat banget sih napsunya. balikin badan bapak biar Ines isep kon tol bapak. soalnya ines tambah napsu kalo isep kon tol bapak". Aku pun berbalik, kini kami bergaya 69 menyamping, kepala ku dijepit oleh pahanya lidahku terus memainkan lubang no noknya dan kadang kutusuk masuk keno noknya.

Semantara jari ku kutusuk masuk kedalam lubang pantatnya. "Enak pak, kocokin pantat Ines pak, terus pak, enak banget. Ines belum pernah dicolok lubang pantatnya. Ternyata nikmat juga ya". Kini pinggulnya mulai bergoyang menekan mulutku, semantara kon tolku terus dihisap dengan kuat sehingga kini kon tolku telah ngaceng kembali. "Terus pak hisap yang kuat lubang no nok Ines....ohhh, Ines mau nyampe lagi pak ...ouhhhhh...achhh". Cret..crett...terasa cairan asin membasahi lidahku, aku pun menjilatnya sampai habis. "udah Nes..kamu puas kan", aku pun memeluknya. "puas banget pak, kon tol bapak enak banget, pengen rasanya isep kon tol bapak terus. Pak, kon tol bapak masih ngaceng tuh, gara-gara Ines isep tadi ya". "Biarin aja aku udah cape banget nih ntar lemes sendiri kok". Kulihat jam telah pukul 2 pagi dan aku sangat ngantuk namun nampaknya ines tidak mau menyia-nyiakan kon tol ku yang lagi ngaceng. "Bapak tiduran aja ya,,biar kon tolnya Ines isep ampe ngecret....kasian udah terlanjur ngaceng nih". Ternyata Ines punya nafsu yang tinggi, dia pun mengulum kon tolku dengan lahapnya sementara aku hanya berbaring menikmatinya. "shhh...uhfff terus Nes". Sekitar setengah jam dia mehisap akhirnya aku mau ngecret. "isep terus Nes, aku mau ngecret nih". Dia pun mengulum kon tolku dengan cepat dan cret..cret...pejuku kembali keluar di mulutnya dan nampaknya hanya sedikit. dia pun asik menjilatinya sampai bersih dan badanku pun terasa lemas sekali. Kulihat Ines terus menjilat kon tolku dan aku pun memejamkan mata karena mengantuk dan akhirnya tertidur.. Ines pun tertidur disamping kon tolku.

Kira-kira pukul 8 aku terbangun. Aku keluar kamar, kulihat Ines sedang menyiapkan sarapan, rambutnya basah habis keramas. dia hanya memakai sarung bali yang dililitkan sampai didadanya. "udah bagun pak, mandi gih sana trus makan nih, pasti bapak laper banget kan". "Oke deh", jawabku. Aku masuk kamar mandi, pintunya tidak kututup. kulihat ines memandangku terus penuh nafsu. Ines terus memandangiku dan kini tangannya meremas toketnya sendiri. akupun memanggilnya, dia langsung masuk ke kamar mandi dan melepaskan sarung balinya. "Pak, Ines pengen dien tot lagi. no nok Ines gatel nih liat kon tol bapak". "Nes...ga ada cape nya". "abis bapak sih, mandi kaga tutup pintu, ya Ines napsu deh ngeliat kon tol bapak". Dia pun jongkok mulai menghisap kon tolku yang masih lemas. Tidak berapa lama kemudian kon tol ku kembali berdiri tegak. Kusuruh dia nungging dan tangan nya berpegang ke bak mandi. Kumasukkan kon tolku kedalam no noknya yang sudah basah, dan kuenjot dengan penuh napsu. "pelan-pelan aja pak, kan kita masih punya banyak waktu. Hari ini kantornya tutup kok, jadi Ines gak usah siap2". Aku tidak peduli dengan ucapannya dan terus menggoyang pinggulku semakin ganas. "nikmatttt pak....terus...en tot terusss". Aku memompa no noknya dan tanganku meremas-remas toketnya yang bergelantungan. "nikmat banget pak, terus....kon tol bapak gede banget". Dia terus meracau dan tidak lama kemudian kurasakan tubuhnya mengejang. "ouhhh Ines nyampe pak, enak banget deh kon tol bapak". Aku pun mencabut kon tol ku dari no noknya. "Ines isep lagi ya pak, sampe ngecret". "Ngga ah , aku mau en tot kamu aja ampe ngecret .sekarang kamu baring di ranjang ya".

Dia kuseret keluar dari kamar mandi dan kudorong ke ranjang sampe telentang. kubuka lebar leba pahanya sehingga terlihat jelas no noknya yang merekah. Ku tancapkan kon tolku perlahan lahandan beberapa saat kemudian kon tolku sudah keluar masuk di no noknya. "ouchhh nikmat banget pak, en tot terus pak, siram no nok Ines dengan peju bapak". Nampaknya gejolak napsunya sudah memuncak sehingga dia meracau tidak karuan. kepalanya menggeleng kekiri dan kekanan sehinga terlihat sangat seksi. Aku pun memompa semakin cepat. "en tot Ines terus pak, tusuk terus no nok Ines. Ines mau nyampe lagi...terus pak....ouchhh..ahh...Ines dah nyampe pak". Cairan cinta pun keluar dari no noknya sementara itu aku juga udah mau ngecret. Kuenjotkan kon tolku dengan cepat dan keras sehingga Crot...crott...crot...pejuku mucrat kemabli didalam no noknya. Setelah reda gelombang kenikmatan yang menerpa, aku berdiri. dia kutarik juga dan kami pun mandi bersama-sama. Setelah itu baru sarapan.

Cerita Mainin Janda Muda Yang Agresif

Cerita Mainin Janda Muda Yang Agresif ~ Seperti biasanya Berita Gue akan berbagi kumpulan cerita hanya di blog http://muna-fik.blogspot.com/ Berita gue akan Berbagi Cerita Ngentot, Cerita ML, Sex Porno dan Cerita Bercinta. Kali ini Berita gue mengambil topik cerita berjudul "Cerita Mainin Janda Muda Yang Agresif"



Berikut Cerita yang Berjudul "Cerita Mainin Janda Muda Yang Agresif"

Cerita Mainin Janda Muda Yang Agresif-Peristiwa itu bermula ketika aku berkeinginan untuk mencari tempat kos-kosan di Surabaya. Pada saat itu, pencarian tempat kost-kostan ternyata membuahkan hasil. Setelah aku menetap di tempat kost-kostan yang baru, aku berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja namanya Varia. Usia Varia saat itu baru menginjak 30 tahun dengan status janda Tionghoa beranak satu.

Perkenalanku semakin berlanjut. Pada saat itu, aku baru saja habis mandi sore. Aku melihat Varia sedang duduk-duduk di kamarnya sambil nonton TV. Kebetulan, kamarku dan kamarnya bersebelahan. Sehingga memudahkanku untuk mengetahui apa yang diperbuatnya di kamarnya.

Dengan hanya mengenakan handuk, aku mencoba menggoda Varia. Dengan terkejut ia lalu meladeni olok-olokanku. Aku semakin berani mengolok-oloknya. Akhirnya ia mengejarku. Aku pura-pura berusaha mengelak dan mencoba masuk ke kamarku. Eh.. ternyata dia tidak menghentikan niatnya untuk memukulku dan ikut masuk ke kamarku.

“Awas kau.. entar kuperkosa baru tahu..” gertaknya.

“Coba kalau berani..” tantangku penuh harap.

Aku menatap matanya, kulihat, ada kerinduan yang selama ini terpendam, oleh jamahan lelaki. Kemudian, tanpa dikomando ia menutup kamarku. Aku yang sebenarnya juga menahan gairah tidak membuang-buang kesempatan itu.

Aku meraih tangannya, Varia tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyambar handuk yang kukenakan. Ia terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, ia menyambar kejantananku serta meremas-remasnya.

“Oh.. ennaakk.. terussh..” desisanku ternyata mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ia berjongkok, serta melumat kepala kontolku.

“Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat..” Ia sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.

Dengan semangat, ia terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulutnya terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.

“Oh.. aduhh..” teriakku kenikmatan.

Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.

“Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh..”

Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulutnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Varia berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.

Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Varia tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.

Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Varia melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudaranya yang semakin bengkak.

“Ohh.. Teruss Ted.. Teruss..” desahnya.

Kuhisap-hisap pentilnya yang mengeras, semnetara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulutnya. Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan pahanya. Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.

Dengan penuh nafsu, aku menciumi memeknya dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.

“Oh.. teruss.. Ted.. Aduhh.. Nikmat..”

Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentitnya seperti ular cobra.

“Ted.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh.”

Desis kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.

“Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss..” teriakannya semakin merintih.

Tiba-tiba ia menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. Ia mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.

“Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot.”

Ternyata Varia mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang ia lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memeknya. Aku menelan semua cairan yang kelyuar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.

Varia masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..

“Oh.. enakk..”

Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Varia.

“Oh.. Variaa.. sayang.. enakk.”

Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Varia yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.

“Oh.. Ted.. Terus.. Sayang.. Mmhhss..”

Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Varia.. Lalu ia meminta agar aku berada di bawah.

“Kamu di bawah ya, sayang..” bisiknya penuh nikmat.

Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Varia dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.

“Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk..” erangan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.

“Oh.. Varia.. terus goyang sayang..” teriakku memancing nafsunya.

Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggulnya semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.

“Tedii.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh..”

Ternyata Varia telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.

Kemudian aku membalikkan tubuh Varia, sehingga posisinya di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.

“Oh.. Varia.. Nikmatnya.. Aku keluuarr..”

Crott.. Crott.. Tttcrott.

Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Varia.

“Oh.. Ted.. kau begitu perkasa.”

Telah lama aku menantikan hal ini. Ujarnya sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Varia memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.

Kemudian, tanpa kukomando, Varia berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian ia meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Varia terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanannya terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ia menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.

“Ohh.. Varia.. Geli..” desahku lirih.

Namun Varia tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina varia membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentitnya yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.

“Oh.. Ted.. nikmat.. ya.. Oh..” desisnya.

Varia menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.

“Oh.. Terus.. Sss.” desahnya sembari kepalanya berdiri tegak.

Kini mememeknya memenuhi mulutku. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya.

“Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh” aku menyedot kuat lobang vaginanya.

“Ted.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss..”

Ia menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Varia merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.

Varia terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.

“Oh.. Varia.. Teruss.. Teruss..” rintihku menahan sejuta kenikmatan. Varia terus mempercepat gerakan kepalanya.

“Au.. Varia.. Aku.. Keluuarr.. Oh..”

Croott.. Croott.. Croot..

Maniku tumpah ke dalam mulutnya. Sementara varia seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.

“Terimakasih sayang..” ucapku..

Aku merasa puas.. Ia mengecup bibirku.

“Ted.. mungkinkah selamanya kita bisa seperti ini. Aku sangat puas dengan pelayananmu. Aku tidak ingin perbuatan ini kau lakukan dengan wanita lain. Aku sangat puas. Biarlah aku saja yang menerima kepuasan ini.” Aku hanya terdiam.

Sejak saat itu, aku sering meniduri di kamarnya, selalu dalam keadaan telanjang bulat, terkadang dia juga tidur di dalam kamar kostku, tentu saja dengan mengendap-endap. Terkadang, kami tidur saling tumpang tindih, membentuk posisi 69, aku tertidur dengan menghirup aroma segar kemaluannya, sedangkan Varia mengulum penisku. Di kala pagi, penisku selalu ereksi, diemut-emutnya penisku yang ereksi itu, sementara aku dengan cueknya tetap tidur sambil menikmati oralnya, terkadang aku jilat kemaluannya karena gemas.